Pemberi
Bantuan Hukum menurut Pasal 1 angka (3) adalah Lembaga Bantuan Hukum atau Organisasi
Kemasyarakatan yang memberi layanan bantuan hukum berdasarkan Undang-Undang
ini.
Penerima
Bantuan Hukum menurut ketentuan Pasal 1 angka (2) adalah orang atau kelompok
orang miskin.
Berbicara
mengenai Bantuan Hukum tidak hanya diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun
2011 Tentang Bantuan Hukum, tetapi bantuan hukum pun diatur dalam Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat Pasal 22 ayat (1) yang berbunyi :
“Advokat
wajib memberikan bantuan hukum secara Cuma-Cuma kepada pencari keadilan yang
tidak mampu”
Dan
Pasal 54 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berbunyi :
“Guna kepentingan
pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum dari seorang
atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan,
menurut tatacara yang ditentukan dalam undang-undang ini.”
Pasal
56 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berbunyi :
(1) Dalam hal
tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang
diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau
bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih
yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada
semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat hukum
bagi mereka.
(2) Setiap
penasihat hukum yang ditunjuk untuk bertindak sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), memberikan bantuannya dengan cuma-Cuma.
Sedangkan
Penerima Bantuan Hukum diatur Pasal 5 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang
Bantuan Hukum yang berbunyi :
(1) Penerima
Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) meliputi setiap orang
atau kelompok orang miskin yang tidak dapat memenuhi hak
dasar secara layak dan mandiri.
(2) Hak dasar
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi hak atas pangan, sandang, layanan
kesehatan, layanan pendidikan, pekerjaan dan berusaha, dan/atau perumahan.
Syarat
dan Tata Cara Penerimaan Bantuan Hukum diatur dalam Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum pada Bab VI yang berbunyi :
Pasal 14
(1) Untuk
memperoleh Bantuan Hukum, pemohon BantuanHukum harus memenuhi syarat-syarat:
a. mengajukan
permohonan secara tertulis yang berisisekurang-kurangnya identitas pemohon dan
uraiansingkat mengenai pokok persoalan yang dimohonkan
BantuanHukum;
b. menyerahkan
dokumen yang berkenaan denganperkara; dan
c. melampirkan
surat keterangan miskin dari lurah,kepala desa, atau pejabat yang setingkat di
tempattinggal pemohon Bantuan Hukum.
(2) Dalam hal
pemohon Bantuan Hukum tidak mampumenyusun permohonan secara tertulis,
permohonandapat diajukan secara lisan.
Pasal 15
(1) Pemohon Bantuan
Hukum mengajukan permohonanBantuan Hukum kepada Pemberi Bantuan Hukum.
(2) Pemberi Bantuan
Hukum dalam jangka waktu palinglama 3 (tiga) hari kerja setelah permohonan
BantuanHukum dinyatakan lengkap harus memberikan jawabanmenerima atau menolak
permohonan Bantuan Hukum.
(3) Dalam hal
permohonan Bantuan Hukum diterima,Pemberi Bantuan Hukum memberikan Bantuan
Hukumberdasarkan surat kuasa khusus dari Penerima
Bantuan Hukum.
(4) Dalam hal
permohonan Bantuan Hukum ditolak,Pemberi Bantuan Hukum mencantumkan
alasanpenolakan.
(5) Ketentuan lebih
lanjut mengenai syarat dan tata carapemberian Bantuan Hukum diatur dengan
PeraturanPemerintah.
Maka
dari itu tidak semua orang dapat diberikan bantuan hukum secara Cuma-Cuma, akan
tetapi ada kriteria penerima bantuan hukum secara Cuma-Cuma.
Demikian
artikel ini semoga bermanfaat, apabila ada kritik dan saran silahkan tambahkan
dikolom komentar, terima kasih.
Dasar
Hukum :
Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum
Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat
Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar